Mediapewarta.co.id Kota Batu ; Dalam rangka Peringatan Hari Jadi ke-100 dengan tema "Luhuring Rasa Wilasitaning Gusti" Pemerintah Desa Tulungrejo melaksanakan Atur Pisungsun Merti Bumi.
Tradisi yang menjadi ungkapan syukur atas limpahan hasil bumi tersebut berlangsung khidmat di Balai Desa Tulungrejo, Sabtu (27/6/2026).
Prosesi Merti Bumi diikuti masyarakat dari lima dusun di Desa Tulungrejo dengan membawa aneka hasil pertanian, buah-buahan, sayuran, serta berbagai hasil bumi sebagai simbol kemakmuran, kebersamaan, dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah yang diterima selama ini.
Selain dihadiri langsung oleh Kepala Desa Tulungrejo Suliono beserta seluruh jajaran, ketua TP PKK Desa Tulungrejo, seluruh lembaga, ketua RT dan RW se - desa Tulungrejo, tokoh agama, tokoh masyarakat dan masyarakat.
Pada kegiatan ini juga dihadiri oleh Walikota Batu H. Nurochman, SH., MH dan Wakil Wali Kota Batu H Heli Suyanto, SH., MH.
Dalam sambutannya, Wali Kota Batu H Nurochman , SH., MJ mengajak masyarakat untuk terus menjaga warisan budaya leluhur sebagai jati diri yang harus diwariskan kepada generasi penerus. Menurutnya, di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, nilai-nilai budaya, adab, dan budi pekerti luhur menjadi fondasi penting dalam membangun karakter masyarakat.
"Bahwa identitas budaya leluhur kita menjadi salah satu tameng yang kuat untuk membentengi kita dan generasi penerus kita dari dampak negatif perkembangan zaman yang semakin hari semakin cepat," jelasnya.
Wali Kota Batu Nurochman juga mengapresiasi komitmen masyarakat Desa Tulungrejo yang terus melestarikan tradisi Merti Bumi hingga memasuki usia satu abad desa. Menurutnya, tema "Luhuring Rasa Wilasitaning Gusti" menjadi pengingat untuk terus memperkuat gotong royong, menjaga kelestarian alam, serta merawat tradisi sebagai identitas Desa Tulungrejo.
Dalam prosesi sakral tersebut, Wali Kota Nurochman bersama Wawali Heli Suyanto menerima persembahan Merti Bumi dari masyarakat, kemudian menuangkan air dari Dusun Wonorejo ke dalam Kendhi Agung yang dipadukan dengan air dari lima dusun di Desa Tulungrejo. Ritual itu menjadi simbol persatuan, keharmonisan, serta komitmen bersama menjaga kelestarian alam dan warisan budaya yang telah mengakar selama satu abad.







